Skip to content

Allah mencintai Orang-orang yang ittiba’/mengikuti Rasul-Nya

Maret 11, 2009

Allah ta’ala berfirman :

“ Katakanlah – wahai Muhammad – jikalau kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian “ (Surah Ali Imran : 31)

Orang-orang yang ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam -Lihat di dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adhzim karya Ibnu Katsir 1 / 366 dan Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi 12 / 16- :

Adalah mereka yang mencintai Allah lalu kemudian mengikuti Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menapaki manhaj beliau, tidak melakukan perbuatan bid’ah didalam agama, perbuatan yang tidak pernah sekalipun disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Berkata sebagian ulama as-Salaf : Sebagian kaum menyangka bahwa mereka telah benar-benar mencintai Allah, maka Allah ta’ala menguji mereka dengan ayat ini :

“ Katakanlah – wahai Muhammad – jikalau kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku … “ – al-ayat -.

Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang taat kepada Rasul-Nya dan mengikuti sunnah beliau … Ayat yang mulia ini menjadi hakim pemutus bagi setiap yang mengaku mencintai Allah, sedangkan dia tidaklah berada diatas ath-thariqah al-Muhammadiyah –jalan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka sebenarnya pengakuan dia hanyalah kedustaan belaka hingga dia mengikuti asy-syar’u al-Muhammadiy – syari’at yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam - dan agama Nabawi pada setiap aspek perkataan maupun perbuatannya. Sebagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Barang siapa yang mengada-adakan suatu perkara dalam perkara kami – perkara agama – ini yang bukan merupakan bagian dari perkara agama tersebut maka sesuatu itu tertolak” (Diriwayatkan oleh Muslim didalam Kitab al-Aqdhiyah, bab. Naqdual-Ahkam al-Bathilah wa Raddu al-muhadtsaat al-umur).

Pada riwayat yang kedua : “ Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan merupakan bagian dari perkara/perintah kami maka amalan itu akan tertolak “ (Diriwayatkan oleh Muslim didalam Kitab al-Aqdhiyah, bab. Naqdual-Ahkam al-Bathilah wa Raddu al-muhadtsaat al-umur)

Ar-Raddu berarti marduud/tertolak, yaitu bahwa amalan tersebut batil tidak dapat dibenarkan. Hadits ini merupakan kaidah yang sangat agung diantara sekian kaidah-kaidah dasar Islam, dan termasuk salah satu dari Jawami’ al-Kalim yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dimana hadits ini dengan sangat jelas menolak segala macam perbuatan bid’ah dan hal-hal yang diada-adakan didalam agama Islam.. Dan pada riwayat yang kedua, memiliki tambahan, yakni bahwa sebagian yang tergelincir melakukan perbuatan bid’ah yang terkadang membangkang dengan bid’ah yang telah diperbuatnya, apabila dia ditegur dengan hadits pada riwayat yang pertama, dia akan mengatakan : Saya sama sekali tidak mengada-adakan sesuatu. Maka diapun ditegur dengan riwayat yang kedua yang padanya berisikan keterangan yang jelas perihal bantahan terhadap segala bentuk al-muhdatsaat –perkara-perkara yang diada-adakan-, baik itu perkara yang diada-adakan oleh pelaku itu sendiri atau telah ada pendahulunya dalam melakukan perbuatan al-muhdatsaat tersebut … Hadits ini termasuk hadits yang semestinya dihafalkan dan dipergunakan dalam menyangkal segala bentuk kemungkaran dan berargumen dengan hadits ini.

Allah ta’ala berfirman :

“ Katakanlah – Muhammad – Kalian taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan apabila kalian berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir “ (Surah Ali Imran : 32).

Maknanya : bahwa menyelisihi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap pedoman beliau merupakan bentuk kekafiran dan Allah tidak menyukai orang yang disifati dengan sifat itu, walau dia mengaku dan menyangka bahwa dirinya telah mencintai Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya, hingga dia benar-benar mengikuti Rasulullah Nabi yang ummi, penutup para Rasul, Rasulullah yang diutus kepada dua kaum, kaum jin dan kaum manusia, yang mana seandainya para Nabi bahkan para Rasul bahkan pula ulul Azmi dari para Rasul, kesemuanya berada dizaman beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada kelapangan bagi mereka selain mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melebur dalam ketaatan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ittiba’ kepada syari’atnya.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: